Pages

Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts

Monday, November 9, 2009

Hamil dan Menyusui



Menberikan Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi ternyata memberikan keuntungan ganda tidak saja untuk Bayi tapi juga untuk si IBU…….
ASI adalah makanan alamiah untuk bayi anda. ASI mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen, dengan jumlah yang sesuai, untuk pertumbuhan bayi yang sehat.
Memberikan ASI kepada bayi anda bukan saja memberikan kebaikan bagi bayi tapi juga keuntungan untuk ibu.
Keuntungan untuk bayi:
  • ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi anda. Dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk perkembangan bayi sehat.
  • ASI mudah dicerna oleh bayi.
  • Jarang menyebabkan konstipasi.
  • Nutrisi yang terkandung pada ASI sangat mudah diserap oleh bayi.
  • ASI kaya akan antibody(zat kekebalan tubuh) yang membantu tubuh bayi untuk melawan infeksi dan penyakit lainnya..
  • ASI dapat mencegah karies karena mengandung mineral selenium.
  • Dari suatu penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI samapi lebih dari 9 bulan akan menjadi dewasa yang lebih cerdas. Hal ini diduga karena Asi mengandung DHA/AA.
  • Bayi yang diberikan ASI eksklusif samapi 4 bln akan menurunkan resiko sakit jantung bila mereka dewasa.
  • ASI juga menurunkan resiko diare, infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kencing, dan juga menurunkan resiko kematian bayi mendadak.
  • Memberikan ASI juga membina ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.
Keuntungan untuk ibu:
  • Memberikan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan kontraksi rahim, yang berarti mengurangi resiko perdarahan.
  • Memberikan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim ke ukuran sebelum hamil.
  • Menyusui (ASI) membakar kalori sehingga membantu penurunan berat badan lebih cepat.
Beberapa ahli menyatakan bahwa terjadinya kanker payudara pada wanita menyusui sangat rendah.
Karena begitu besar manfaat dari ASI maka WHO dan UNICEF menganjurkan agar para ibu memberikan ASI EKSKLUSIF yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan pendamping hingga bayi berusia 6 bulan.
Begitu banyak keuntungan yang diberikan Air Susu Ibu baik untuk ibu maupun bayi. Berikanlah Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi anda sebagai hadiah terindah dalam menyambut kelahirannya.
Artikel Mengenai Ibu Hamil dan Menyusui Oleh Dr.Suririnah.

Saturday, November 7, 2009

Air Susu Ibu



Menurut Emma Kitching, para Ibu yang memberikan ASI kepada bayi, meraka memiliki kewaspadaan lebih tinggi terhadap keamanan bayi mereka. Secara tidak disadari, si Ibu akan menempatkan diri pada posisi tidur yang “melingkari” si bayi. Ia melindungi si bayi dengan meletakkan kepala si bayi tepat di dada, kemudian “mengunci” si bayi dengan lutut yang diletakkan di bawah kaki mungil bayi. Sementara ibu yang memberikan susu botol kepada bayi mereka, tanpa disadari akan meletakkan diri sejajar dengan si bayi atau “adu kepala”.
Dengan demikian dapat disimpulkan, para Ibu yang memberi ASI secara otomatis akan menempatkan bayi mereka pada posisi yang paling aman. Hal seperti ini, kata Kitching, tidak terjadi pada ibu yang memberi susu botol. “Ibu yang memberikan ASI akan lebih waspada dan selalu memberikan lingkungan yang protektif bagi si bayi,” katanya.
Pada tahap ini pula komunikasi antara ibu dan anak akan tercipta dengan lebih baik. Lebih jauh, para peneliti mengatakan, jika lebih banyak ibu yang memberikan ASI, setidaknya sekitar 10 hingga 15 persen masalah obesitas akan terkurangi. Ditemukan obesitas pada anak-anak yang mendapatkan ASI 30 persen lebih rendah dibanding mereka yang tidak mendapat ASI. Sedangkan kasus kegemukan pada bayi yang diberi ASI hanya sekitar 2,8 persen.
susu botol
Brenda Phipps dari National Childbirth Trust menegaskan, ASI masih tetap yang terbaik Alasan utama adalah karena ASI secara otomatis akan diproduksi oleh ibu yang melahirkan. Kandungan dan nutrisi ASI ini sangat dibutuhkan oleh bayi pada enam bulan pertama. ASI mengandung antibodi yang membantu melindungi bayi dari infeksi. Antibodi ini sebenarnya diciptakan oleh si ibu sebagai respons atas kuman yang muncul di dalam ASI.
Sebagian besar para Ibu yang bekerja mengombinasikan ASI dengan susu botol. Kombinasi seperti ini memang tidak dilarang. Namun, harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Selain itu, disarankan memberikan ASI terlebih dulu baru susu botol untuk mencegah berkurangnya jumlah pasokan ASI.

Friday, October 30, 2009

Cegah Anemia



Dalam bahasa sehari-hari, penyakit anemia disebut kurang darah. Cegahlah penyakit ini menjadi semakin parah karena akan merusak organ-organ tubuh yang kekurangan suplai oksigen. Apa yang perlu Anda ketahui tentang anemia?

Anemia itu Apa?
Anemia terjadi ketika darah kita kekurangan hemoglobin (Hb) yang bertugas membantu sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.


Apa Penyebabnya?
Anemia kekurangan zat besi: ini anemia yang sangat sering ditemui. Tubuh memerlukan zat besi untuk memproduksi Hb. Sumber-sumber besi pada makanan ada 2 bentuk, yang Heme dan yang non-Heme.

Yang Heme mudah sekali diserap seperti daging sapi, hati, telur, daging ayam dan daging merah. Sedangkan yang non-Heme terdapat pada sayuran-sayuran hijau seperti bayam, kangkung, buncis dimana zat besi tersebut tidak dapat langsung diserap oleh tubuh dan harus diubah dulu oleh usus agar mudah diserap.

Anemia Megaloblastik (Kekurangan Vitamin)
Anemia ini terjadi jika tubuh kekurangan asam folat dan vitamin B-12. Tubuh mempunyai sel darah merah yang tidak mengangkut oksigen dengan baik.


Akibat komplikasi
Beberapa penyakit bisa mengganggu produksi sel darah merah. Misalnya, penderita penyakit ginjal yang melakukan dialisis (membuang zat sisa dengan bantuan melakukannya). Ginjal mereka tidak mampu memproduksi cukup hormon untuk membuat sel darah merah, dan zat besi banyak terbuang dalam proses dialisis.


Penyakit darah turunan
Salah satu jenis penyakit turunan yang membuat anemia adalah kelalaian bentuk sel darah meraah (sickle cell anemia). Tubuh akan menghancurkan sel darah meraaah yang tidak normal ini namun tidak cukup cepat memproduksi sel baru sehingga anemia muncul. Thalasemia merupakan penyakit darah yang diturunkan yang akan mempengaruhi kemampuan tubuh memproduksi sel darah merah.


Anemia Aplastis
Ini penyakit yang jarang terjadi dimana sumsum tulang belakang tidak memproduksi sel darah merah yang cukup. Ini juga akan mempengaruhi jumlah sel darah putih sehingga akan rentan terhadap infeksi dan perdarahan yang tidak bisa dihentikan?


Apa gejala Anemia?
Gejala yang umum terjadi bisa kelihatan pucat pada bibir atau ujung jari tangan. Gejala lainnya adalah cepat lelah, tidak bisa berkonsentrasi lama, dan bahkan mudah lupa.


Bagaimana mendiagnosisnya?
Anemia didiagnosis melalui tes darah. Normalnya nilai Hb pada anak-anak 11-12 g/dl dan pada saat dewasa menjadi 13-14 g/dl.


Bagaimana mencegah anemia?
Untuk mencegah kekurangan zat besi, sebaiknya mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang mencukupi. Sementara itu, mengatasi anemia yang penting adalah mencari dulu penyebabnya.

Bila penyebabnya telah diobati, penyakit anemia akan sembuh dengan sendirinya. Selain zat besi, konsumsi makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B-12. Perhatikan asupan kalsium, kopi dan teh yang berlebihan. Zat-zat ini menghalangi penyerapan zat besi.

Thursday, October 29, 2009

Mengenal Leukemia Pada Anak



Leukemia, Gejalanya Mirip Demam Berdarah

Jika tubuh anak Anda lemas, kulit pucat, demam, bahkan terjadi perdarahan karena kadar trombosit dalam darah menurun, muntah dan lain sebagainya, jangan buru-buru memvonis demam berdarah atau penyakit kuning. Harus diteliti lebih lanjut. Sebab, gejala leukemia juga mirip demam berdarah dan penyakit kuning. Bedanya, leukemia lebih berbahaya.
Jika seorang anak terbukti positif menderita leukemia, ia akan menjalani pengobatan yang sangat panjang dan biaya yang sangat besar. Menurut Endang Windia5tuti, dari Sub Bagian Hematologi Onkologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, sekitar 10 persen kasus kanker yang menyebabkan kematian anak, 2-4% diataranya karena leukemia. Dari sebagian besar kasus kematian akibat leukemia, terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. Lebih posh lagi, penyakit kanker dash ini sering teijadi pada anak usia 3-5 tahun. Leukemia yang sering dialami anak-anak adalah leukemia limfositik akut (LLA). LLA umumnya diketahui ketika anak masih berusia balita, tapi tidak sedikit pasien yang divonis positif LLA ketika sudah menginjak usia remaja.
Proses Terjadinya
Dalam tubuh, jelas Endang, terdapat beberapa jenis sel dash. Secara garis besar terdiri dan sel darah merah (eriirnsit), sel dash putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah mengandung haemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Sedangkan sel darah putih berfungsi memberantas infeksi. Keping darah diperlukan untuk menghentikan perdarahan jika terjadi luka.
Khusus untuk sel darah putih, dalam kedaan normal sel ini berkembang membentuk limfosit yang punya peran besar bagi sistem kekebalan tubuh manusia. Namun tanpa sebab yang jelas, sel limfosit ini malah berubah menjadi ganas dengan memakan sel darah putih. Umumnya, perkembangan sel ganas ini paling cepat terjadi pada sumsum tulang. Tapi, tidak berhenti sampai di situ. Setelah sel ganas lepas dari sumsum tulang, lalu masuk ke dalam aliran darah.
Karena berada dalam aliran darah, maka aneka sel darah lain akan ikut diserang lalu mengalami kerusakan. Serangan sel limfosit ganas terhadap sel darah putih ini mengakibatkan sistem daya tahan tubuh menurun. Akibatnya, anak mudah terkena infeksi. Sedangkan rendahnya sel darah merah menyebabkan anak pucat dan lemah.
Keping darah yang berkurang, membuat anak mudah mengalami perdarahan yang sulit berhenti. Selanjutnya sel yang tidak normal atau sel kanker ini merambah hingga ke organ lain seperti hati, limpa, getah bening, otak, ginjal, organ reproduksi, yang mengakibatkan organ tersebut rusak. Ini dapat mengakibatkan anak menderita: gagal hati, gagal ginjal dan meningitis. Hingga saat ini, penyebab sel darah tersebut mengalami perkembangan, secara tidak normal belum diketahui secara pasti. Tapi berdasarkan dugaan, perubahan sel yang tidak normal tersebut terkait dengan gaya hidup. Baik itu berupa pola makan, karena zat kimia dan paparan bahan karsinogenik.
Dugaan lain, kanker ini disebabkan kelainan genetik ditambah masuknya virus tertentu. Defisiensi atau kekurangan faktor imunitas serta paparan zat radioaktif dapat meningkatkan terjadinya kanker ini.
Bisa Diobati
Karena perubahan sel yang abnormal ini bermula di sumsum tulang, maka produksi sel darah merah dalam jumlah yang memadai mengalami kegagalan. Secara kasat mata, pada tubuh keadaan ini memunculkan gejala berupa:
  • lemah dan sesak nafas, karena anemia (set darah merah terlalu sedikit)
  • infeksi dan demam, karena berkurangnya jumlah sel darah putih
  • perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit.
Pada beberapa penderita, infeksi yang berat merupakan pertanda awal dari leukemia. Sedangkan pada penderita lain gejalanya lebih ringan, berupa lemah, lelah dan tampak pucat. Jika sel-sel leukemia sudah menyebar ke dalam otak bisa menyebabkan sakit kepala, muntah dan gelisah serta nyeri tulang dan sendi.
Jadi, waspadalah jika anak sering tampak lesu dan lelah disertai pucat, demam yang tak jelas penyebabnya, perdarahan abnormal-seperti mimisan, bercak-bercak biru di kulit, serta rewel karena merasa nyeri pada tulang. Apalagi jika diraba perutnya terasa keras dan membengkak. Kadang-kadang ditemukan benjolan pada kulit, pembengkakan gusi, kelumpuhan otot wajah atau tungkai tanpa sebab yang jelas.
Penyembuhan
Dulu, kemungkinan penyembuhan leukemia sangat kecil, sehingga harapan hidup penderitanya sangat kecil pula. Setelah penyakit terdiagnosis, . banyak penderita yang hanya sanggup bertahan hidup selama 4 tahun atau lebih. Sebagian besar pasien meninggal pada saat sel kankernya masih sedans berada dalam fase akselerasi, atau periode awal saat sel kanker mengalami percepatan perkembangan.
Tapi sejak ditemukannya alat kemoterapi, harapan hidup pasien bisa diperpanjang sampai 8-12 bulan.
Meskipun hingga saat ini masih menjadi momok, namun leukemia atau kanker darah bukan lagi penyakit yang mengerikan. Penyakit yang beberapa tahun lalu bisa dikatakan vonis mati itu, kini bisa diobati, bahkan pengobatan bisa membuat pasien sembuh total.
Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi pengobatan kanker dengan memanfaatkan berbagai sitostatika (obat antikanker) yang ampuh memberantas sel kanker. Juga pengobatan dengan kemoterapi (penyinaran). Tapi masalahnya, obat sitostatika tidak hanya memberantas sel kanker. Sel-sel darah normal yang diproduksi dalam sumsum tulang turut pula terberantas. Akibatnya pasien bisa sangat rawan terhadap infeksi, perdarahan, maupun gangguan kesehatan umum.
Tujuan pengobatan pasien leukemia adalah meneapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemia. Untuk itu, penderita leukemia harus menjalani kemoterapi dan harus dirawat di rumah sakit.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu.
Meskipun tingkat kemampuan obat anti kanker dalam memberantas sel yang tidak normal demikian tiriggi, tapi efek samping obatnya juga semakin besar. Maka, selama menjalani pengobatan dengan memanfatkan obat anti kanker,.pemantauan ketat efek samping obat terhadap organ lain tidak boleh putus. Organ yang berisiko terkena efek samping pengobatan antara lain : hati, jantung, dan ginjal. Untuk itu, di samping sitostatika, penderita diberi pula obat penangkal efek samping, tranfusi darah, antibiotika, serta makanan bergizi.
Efek Samping Pengobatan
Ada sejumlah efek samping yang mungkin terjadi akibat kemoterapi clan’ pemanfaatan obat anti kanker:
  1. Sel darah putih menurun (lekopenia) ; Penderita sangat mudah infeksi, akibatnya demam.
  2. Sel darah menurun (anemia) ; akibatnya : lemah, pucat, cepat capai, pusing, nyeri dada dan respirasi meningkat. Hati-hati pada penderita yang memang sudah mempunyai kelainan jantung atau paru.
  3. Sel trombosit menurun (trobositopenia) akibatnya : mudah berdarah, balk di bawah kulit (petechiea), saluran pencernaan (melena), saluran pernafasan (hemoptisis), maupun pembuluh darah otak (stroke). Hal ini diperburuk apabila penderita juga mendapat radiasi pada tulang-tulang yang membentuk sel darah.
  4. Muntah; gelombang rasa muntah berasal dari area epigastrium, tengggorokan belakang dan seluruh abdomen. Muntah ini akan berlanjut menjadi lemah, pusing, pucat dan nafas cepat.
  5. Diare; pengeluaran feses dengan frekuensi lebih cepat dari normal dengan konsistensi lunak atau cair, disertai rasa sakit perut atau tidak.
  6. Kebotakan; hilangnya rambut temporer, walaupun dalam prosentase kecil ada yang permanen. Hal ini karena penghancuran inti sel basal dari folikel rambut, sehingga rambut rapuh dan mudah dicabut/rontok.
  7. Dosis kemoterapi makin besar atau pemberian yang lama akan membuat lebih cepat rontok. Bulu-bulu tubuh lain yang tumbuhnya tidak terlalu cepat tidak terpengaruh oleh kemoterapi.
  8. Ekstravasasi. Gejalanya radang hebat disertai nyeri. Apabila obat non vesicant akan sembuh dalam 1-2 hari. Reaksi kulit dan kuku; diakibatkan destruksi sel basal dari epidermis (sistemis) atau gangguan pada sel yang dilewati kemoterapi sepanjang vena. Kelainan ini spesifik untuk kemoterapi tertentu. Sistitis (radang kandung kencing); pada kemoterapi tertentu terjadi nyeri buang air kecil
  9. Infeksi Vagina (mucocytis vaginalis); klinis nyeri pada vagina. Bahkan bisa sampai berdarah. Timbul hari ke-5 dan menghilang pada hari ke 10.
  10. Gangguan rasa pengecapan; gangguan rasa asam, manis, pedas. Hal ini menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang mengakibatkan difisiensi protein dan kalori. Gangguan tersebut bisa
    sedikit berkurang atau hilang lama sekali, atau timbul rasa baru, disebut metallic medicinal.
  11. Kardiomiopati; kerusakan otot jantung yang karena kemoterapi bersifat permanen.
  12. Fibrosis paru; terjadi infiltrasi paru sehingga fungsi paru menurun
  13. Nefropati asam urat; pecahnya sel kanker karena obat akan menyumbat ginjal sehingga fungsi ginjal menurun.
  14. lelah; rasa lemah dan energi menurun sehingga selalu ingin berbaring di tempat tidur dan tidak bisa berkonsentrasi.
  15. Reaksi hipersensitif; adalah efek samping yang sangat berbahaya, mulai fase ringan sampai berat dengan tanda-tanda shock.
Macam leukemia
Leukemia Limfositik

Ini dapat berakibat fatal Sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, pada LLA berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. LLA merupakan leukemia yang paling Bering terjadi pada anak-anak. Sel leukemia jenis ini bisa muncul di otak, dan buah zakar. Untuk membunuh sel-sel ini biasanya dilakukan dengan kemoterapi dan tempi penyinaran selama beberapa minggu.
Leukemia Mieloid Akut
Sel mielosit yang dalam keadaan normal berkembang seharusnya menjadi granulosit. Tapi pada penderita LMA, sel mielosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di sumsum tulang. Leukemia ini bisa menyerang segala usia, tetapi paling sering terjadi pada dewasa.
Sel-sel leukemia tertimbun di dalam sumsum tulang, menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke organ lainnya, lalu melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri. Mereka bisa membentuk tumor kecil (kloroma) di dalam atau tepat dibawah kulit dan bisa menyebabkan meningitis, anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya.
Leukemia Limfoasitik Kronis
Ini ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah s.atu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas. Pertumbuhan dan perkembangbiakan sel ini Bering ditemukan pada kelenjar getah bening. Tapi dalam perkembangannya sel leukemia ini bisa masuk ke organ lain dengan memanfaatkan aliran darah ke hati dan limpa. Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah. Akibatnya, kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang. Bahkan, karena serangan sel ini, sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, justru seringkali menjadi salah arch dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal.
Leukemia Mielositik Kronis
Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh perubahan sel darah putih dalam sumsum tulang menjadi ganas. Sehingga menghasilkan sejumlah besar granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal. Pada LMK, selselnya terdiri dari sel yang sangat muda sampai sel yang matang. Sedangkan pada LMA hanya ditemukan sel muda. Granulosit leukemik selain menggeser sel-sel normal di dalam sumsum tulang dan seringkali menyebabkan terbentuknya sejumlah besar jaringan sel tumor ganas yang bergantung pada sumsum tulang normal.
Dalam perjalanannya, semakin banyak granulosit muda yang masuk ke dalam aliran darah dan sumsum tulang (fase akselerasi). Alhasil ketika fase tersebut berlangsung, pasien mengalami anemia (kurang darah) dan trombositopenia (penurunan jumlah trombosit).

Thursday, October 15, 2009

Konstipasi Pada Anak

Mengenal Konstipasi Pada Anak


konstipasi-pada-anakDalam istilah umum konstipasi disebut sebagai sembelit. Konstipasi pada seorang anak dapat membuat panik orang tua. Pada sebagian besar kasus, kejadian konstipasi pada anak tidak berbahaya, tetapi sebagian kecil kasus dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konstipasi ini, yaitu keadaan tinja, frekuensi buang air besar (BAB), dan keadaan fisik anak itu sendiri.


Pada keadaan konstipasi, tinja dalam keadaan keras sehingga sering tampak berbentuk seperti kotoran kambing. Frekuensi BAB pada anak akan berkurang dibandingkan sebelumnya. Tapi perlu diperhatikan bahwa keseringan BAB ini bervariasi, tergantung pada umur dan dietnya. Keadaan fisik anak juga menentukan, apakah menderita konstipasi atau tidak. Pada keadaan konstipasi kita dapat meraba adanya benda keras (tinja yang mengeras) di perut bagian kiri bawah.


Awal timbulnya konstipasi penting diperhatikan sebab dapat memberi petunjuk tentang penyebabnya. Bila kesulitan BAB terjadi sejak lahir maka perlu dipikirkan kemungkinan penyakit bawaan, misalnya penyakit Hirscprung. Penyakit ini berupa berkurangnya serabut saraf pada selaput lendir usus besar, dengan akibat usus besar kurang bergerak. Akibatnya tinja yang terbentuk tidak bisa melalui usus besar menuju anus dengan lancar. Pada waktu lahir sebenarnya telah tampak kotorannya yang berwarna hitam (mekonium) terlambat keluarnya. Pada keadaan normal, biasanya bayi telah mengeluarkan mekonium-nya dalam 24 jam pertama. Bila bayi menderita penyakit ini, selain konstipasi, akan tampak perut membuncit dan lama-kelamaan akan kurang gizi. Bila konstipasi terjadi setelah anak berusia 2-3 tahun, tentu penyebabnya adalah hal lain seperti diet, kejiwaan, dan lain-lain.


Lamanya keluhan konstipasi berlangsung dapat memberikan petunjuk untuk mengetahui penyebabnya. Disebut konstipasi akut bila keluhan berlangsung kurang dari 4 minggu, sedangkan bila berlangsung lebih dari 4 minggu disebut konstipasi kronik. Penyebab konstipasi kronik sukar disembuhkan.


Hal yang perlu diperhatikan pada anak yang menderita konstipasi, apakah konstipasi ini disebabkan oleh adanya penyumbatan pada usus. Selain konstipasi, juga akan memperlihatkan gejala seperti muntah, sakit perut, dan perut membuncit. Bila anak memperlihatkan gejala-gejala demikian sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk memastikan apakah terdapat gejala penyumbatan usus.


Kekurangan cairan dan infeksi virus juga dapat menyebabkan konstipasi. Hal ini disebabkan karena anak kurang minum, menderita demam, dan kehilangan cairan melalui saluran napasnya. Dalam hal ini tidak perlu khawatir, sebab bil infeksi dapat diatasi biasanya konstipasinya akan hilang. Jagalah supaya anak banyak minum supaya tidak kekurangan cairan dalam tubuhnya.


Perubahan diet pada anak sering pula menimbulkan konstipasi yang bersifat sementara. Bila diet anak mengandung banyak karbohidrat atau susu, dan kurang mengandung buah-buahan, sayuran, dan serelia biasanya anak jadi mudah terkena konstipasi.


Nyeri pada anus dapat menyebabkan konstipasi, nyeri disebabkan adanya luka pada anus. Luka timbul karena anak pernah melepaskan tinja yang keras, karena luka menimbulkan sakit bila anak buang air besar, maka anak enggan buang air besar. Konstipasi juga dapat timbul bila ada perubahan suasana atau gaya hidup, seperti dalam perjalanan, sewaktu liburan, atau pindah rumah.


Penyebab paling sering konstipasi kronik adalah yang disebut konstipasi fungsional. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin keturunan. Diduga latihan BAB (toilet training) yang salah dan terlalu dini ikut berperan. Anak dengan konstipasi fungsional biasanya mulai memperlihatkan gejala sesudah anak dilatih BAB, pada usia 3-5 tahun. Anak memperlihatkan tingkah laku aneh yang merupakan manifestasi anak dalam melawan proses berhajat. Gejala lainnya berupa kurang nafsu makan, kurang aktif, dan kecepirit.


Bila anak menderita konstipasi sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk menentukan penyebabnya. Dalam hal ini pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya bukan penyakit yang serius, biasanya dicoba dengan memberikan makanan yang kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, atau agar. Dapat pula dicoba dengan mencolok anus dengan sabun mandi, larutan gliserin, atau larutan parafin melalui anus. Bila tidak berhasil, dokter akan memberikan obat pencahar untuk melancarkan BAB. Karena faktor kejiwaan sering menyebabkan konstipasi kronik pada anak, maka konsultasi pada psikiater pun perlu dilakukan.


Namun apa pun penyebabnya, yang penting adalah pengobatan konstipasi pada anak sedini mungkin. Bila tidak, konstipasi akan menjadi kronik, dan makin sulit mengobatinya apalagi bila telah terjadi pengaruh kejiwaan pada anak.

Monday, October 12, 2009

Hiperaktiv Pada Anak


Seorang ibu datang ke Klinik Perkembangan Anak dengan keluhan bahwa anaknya yang berusia 5 tahun selalu mengganggu teman, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Oleh guru dinyatakan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Anak tersebut bukan anak nakal dan juga bukan anak yang malas atau bodoh, namun anak tersebut mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktiv.

Apa Itu Anak Hiperaktiv?

Anak hiperaktiv adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.

Apa Itu Gangguan Hiperkinetik atau GPPH/ADHD ?
Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktiv dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa.

Apakah Ada Ciri-ciri Lain Yang Menyertai Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD) ?

Ciri-ciri lain yang sering menyertai gangguan hiperkinetik adalah :
  • Kemampuan akademik tidak optimal
  • Kecerobohan dalam hubungan sosial
  • Kesembronoan dalam menghadapi situasi yang berbahaya
  • Sikap melanggar tata tertib secara impulsif

Bilamana Anak Disebut Menderita Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD)?

  • Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, mendengarkan guru dan permainan.
  • Hiperaktivitas, selalu bergerak dan tidak bisa tenang
  • Impulsivitas, melakukan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu

Berbagai Tipe Hiperkinetik atau GPPH/ADHD :


  • Tipe sulit konsentrasi
  • Tipe hiperaktiv – impulsiv
  • Tipe kombinasi

Apa Akibatnya Bila Anak Menderita Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD)?

  • Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik
  • Anak sering tidak patuh terhadap perintah orang tua
  • Anak sulit didisiplinkan

Apabila Gangguan Hiperkinetik (ADHD) Tidak Diobati maka akan :
Menimbulkan hambatan penyesuaian perilaku sosial dan kemampuan akademik di lingkungan rumah dan sekolah, sehingga dapat mengakibatkan perkembangan anak tidak optimal dengan timbulnya gangguan perilaku di kemudian hari.
Kondisi Lain yang Menyertai Gangguan Hiperkinetik :

  • Gangguan tingkah laku
  • Gangguan sikap menentang
  • Depresi
  • Gangguan cemas
  • Kesulitan belajar
  • Retardasi mental
  • Gangguan pemusatan perhatian (disorder of attention)
  • Gangguan pengendalian motorik (disorder of motor control)
  • Gangguan persepsi (disorder of perception/DAMP)
  • Autisme

Sunday, October 11, 2009

Pneumonia pada Anak


Pneumonia sebenarnya bukan peyakit baru. Tahun 1936 pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik, membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian. Namun tahun 2000, kombinasi pneumonia dan influenza kembali merajalela.
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak menyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai penyebab kematian anak balita tertinggi, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria, serta AIDS.
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantong-kantong udara dalam paru yang disebut alveoli dipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja. Karena inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber infeksi dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel.
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.
Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Menurut dokter spesialis paru dari RSIA Hermina Jatinegara, Dr. Bambang Supriyatno SpA(K), perbedaan mendasar antara pneumonia dengan TBC terletak pada jenis mikroorganisme yang menginfeksi. ”Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri, virus atau mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus ),” katanya. Bambang menyebutkan, bakteri yang umum adalah streptococcus Pneumoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella Sp, Pseudomonas sp. Sedangkan, vIrus misalnya virus influensa. “Pada TBC, jenis mikroorganisme yang menginfeksinya adalah mikrobakterium tuberculosis,” sambungnya. Rentannya anak terkena penyakit pneumonia umumnya dikarenakan lemahnya atau belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh balita. Oleh sebab itu, mikrorganisme atau kuman lebih mudah menembus pertahanan tubuh.
Jenis bakteri pneumococcus atau pneumokok belakangan semakin populer seiring kian dikenalnya jenis penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD). Selain pneumonia, yang termasuk IPD adalah radang selaput otak (meningitis) atau infeksi darah (bakteremia). “Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pneumokok, kerap menimbulkan komplikasi dan mengakibatkan penderita juga terkena meningitis atau bakteremia,” kata Bambang.
Dokter spesialis anak dari RSAB Harapan Kita, Dr. Attila Dewanti SpA menjelaskan bahwa bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. “Akibatnya, timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak,” tambahnya.
Gejala khususnya adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen.
Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orangtua kurang waspada terhadap penyakit ini. “Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan batuk, orang tua sering mengobati sendiri dirumah dengan obat biasa, bila sudah sesak baru dibawa ke dokter, ” jelas Atilla. Karenanya dokter spesialins bagian neurologi anak ini menyatakan sebaiknya bila anak sakit panas tinggi dan batuk, segeralah ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya.
Diagnosa dan Pengobatan
Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan fisik secara umum. Setelah itu ada pula pemeriksaan penunjuang seperti rontgen paru dan pemeriksaan darah. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara. Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. “Penderita pneumonia dapat sembuh bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya, hanya saja perlu dosis tinggi dan waktu yg lama,” papar Atilla.
Namun, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Bahkan kawasan Asia dinyatakan sebagai hot zone, yakni daerah dengan tingkat resistensi tinggi untuk bakteri pneumokok. Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah, penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara banyak minum air putih maupun melalui infus.
Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah.
Pada beberapa kasus, Atilla menerangkan bahwa pneumonia yang sudah mengalami komplikasi tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. “Anak dapat mengalami berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara,” paparnya. Walaupun demikian, Bambang tetap meyakinkan bahwa anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan normal.
Pencegahan
Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangannya. Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.
Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Ungkapan klasik bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati” benar-benar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan.
Pencegahan penyakit IPD, termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Menurut Atilla yang juga bertugas di klinik khusus tumbuh kembang anak RSAB Harapan kita, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%.
Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, menurut penjelasan Atilla adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Atilla menguatkan bahwa vaksin itu aman dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun Hepatitis B.
Selain imunisasi, pencegahan pneumonia menurut Bambang adalah dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak. “Selain itu, upayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara cukup istirahat juga olahraga,” jelasnya.
Pneumonia oleh Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang eksterm, pasien akan mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia.
Pneumonia oleh virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak- gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.